Masih ingat cerita soal Oxel kan? Boneka Kodok besar empuk dgn muka oon tapi adorable. Semenjak ada dia daya imajinasiku semakin tinggi, mungkin bisa dikategorikan mendekati gila :p. Menganggap dia adalah seorang anak kecil yang harus dipeluk kala tidur malam, memperlakukannya secara halus seperti bagaimana layaknya mengurus seorang bayi. But who’s to care? :p
Ada semacam ritual setelah bangun tidur dan membereskan tempat tidur, I called it “Hugging Oxel Time”. Memeluknya erat beberapa detik seperti semacam terapi melepaskan beban yang setiap detik bergelayutan di kepala, sambil bicara “Oxel..”. I feel safe and warm. Yeah, called me freak if u want. But everyone has their own way to express what they feel, right?
Tidak pernah ada yang benar-benar tau apa yg aku rasakan di hati ketika aku merasa buruk, karena aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapa pun. Ketika terlalu banyak kata di hati mulut dan tangan kadang tidak bisa mengungkapkannya. Bingung menggambarkannya, sama seperti aku yang tidak bisa menggambarkan bahagia dengan banyak kata. Tapi bukan berarti aku tidak merasakan bahagia. Bahagia itu terletak dalam rasa bukan kata. Terlalu banyak berkata malah bahagia tidak terasa.
Dan alasan terbesar kenapa aku suka memeluk Oxel adalah dia seperti menghubungkanku dengan “dia”, yang memberiku bahagia dengan Oxel. “Dia” tak bisa selalu bersamaku dalam nyata, tapi “dia” selalu bersamaku di kepala. Sementara Oxel mengambil perannya untuk selalu bersamaku kapan pun aku membutuhkannya. Terimakasih J.
*I wrote it while Gym Class Heroes featuring Adam Levine – Stereo Hearts on my headset.
My heart just stereo. It beats for u so listen close. Hear my thought in every note. Make me your radio. Turn me up when u feel low. This melody was meant for u. Just singalong to my stereo.

Leave a comment
Comments feed for this article